Pagi itu kami berempat puluh tiga,
dengan semangat yang membara kami siap menaiki truck menuju Ranu Pani..
Semangat kami tetap membara
meski kami hampir 1 jam berdiri di atas truck
menunggu bekal makan siang.
 |
"Danau Ranu Kumbolo (Ranu berarti danau, kumbolo berarti kumpul)"
|
|
"Lelah terbayar sudah.."
(♥)
Pesonamu sungguh luar biasa...
Indah...
mengagumkan...
Lelah ini terbayar sudah saat pertama kali memandangmu
Jalan kaki selama 6 jam dari Ranu Pani yang lumayan melelahkan,
kini terhapus sudah
ketika mata ini dimanjakan dengan kilauan air
dari Danau Ranu Kumbolo
Perjalanan kali ini sangat istimewa,
Entah kenapa?
aku tidak tau… xixixixii...
(sebenarnya tahu siy... tapi pura-pura tidak tahu aja ahh… xixixixii…)
 |
"Tanjakan Cinta"
|
Sekitar pukul 10 sahabat alam beriringan melewati tanjakan cinta.
Tanjakan cinta adalah sebuah jalur di Semeru
setelah Ranu Kumbolo menuju arah Oro - Oro Ombo.
Sesuai namanya jalur tadi memang sangat menanjak, terjal dan lumayan jauh.
Semeru adalah gunung tertinggi di tanah jawa,
selain itu Semeru menyimpan banyak mitos dan misteri.
Ada mitos dan cerita tentang Tanjakan Cinta ini.
Jika sedang menjalin cinta
dan sanggup melewati tanjakan cinta tanpa berhenti
serta menoleh kebelakang,
maka cinta itu akan abadi,
akan diteruskan menuju pernikahan.
Tempo dulu ada suatu kisah dari mulut ke mulut,
ada pasangan mendaki Semeru,
sesampai di Tanjakan Cinta mereka mendaki berdua,
tetapi si perempuan kelelahan dan berhenti
sedangkan si laki - laki terus tanpa henti sampai ujung,
dan selanjutnya baca disini..
Bisa percaya bisa juga tidak karena itu hanyalah mitos,
yang jelas jodoh hanya kuasa Tuhan.
Tapi bagi yang percaya ya sebaiknya silahkan mencoba seperti itu.
Bagi laki-laki normal
jika melewati jalur Tanjakan Cinta ini,
sebaiknya bawalah pasangan perempuan
bukan laki - laki lho….
xixixii….
Panorama ini sulit dilupakan
Keindahan serta keagungannya begitu mengagumkan
Pesonanya yang eksotis membuat
Tak seorangpun sanggup melupakan tempat ini
(kecuali dia amnesia… atau
benar-benar gila… xixixix)
Indah, Eksotis, Agung dan Hangat
Tempat berkumpul para sahabat alam
beristirahat sejenak, bergurau dan tertawa
Siapa yang mampu melupakan pesona
indah ini?
Kenangan ini
Tawa ria para sahabat
Saling berpeluk, moment pun diabadikan
Satu persatu mereka mulai tak terlihat dari bukit
tanjakan cinta itu.
Aku masih singgah di sini,
Kami bertiga tepatnya
aku, si penggembala wedus dan satu
kawan perempuanku
yang tinggal di tempat ini,
mereka berdua kurang enak badan.
(Her/his body not delicious itu kata
para alay jaman sekarang... xixixixi…)
Suasana ini terlihat sempurna
Si gembala memancing
(aku tidak
yakin beliau bisa berhasil mendapat ikan… xixixiix..)
aku dan kawanku duduk di tepi
danau,
bercerita, berbagi pemikiran
ramah, bersahabat,
tutur katanya sederhana,
pemikirannya
tidak begitu rumit
Satu hal yang masih aku ingat dari
ucapannya
“aku tidak peduli orang mau bilang
apa?
Karena cinta itu adalah anugerah dari Tuhan,
dan yang menentukan dosa itu
adalah Tuhan..
bukan mereka!”
Jadi ingat film CinTa (Cina, Tuhan
dan Anisa)
(speechless dehhh....)
Bersyukur saat ini bisa menikmati hembusan
angin di tepi danau ini,
Bercerita dan sesaat melupakan
semua pekerjaanku..
meninggalkan penat!
Meninggalkan segala yang ada dalam
computer
"Terima kasihTuhan atas hari ini"
..............
^♥^
Aku menetap di Ranu Kumbolo
karena
kesepakatan dengan Ade dan Lian
*nama sebenarnya
Selain itu tujuanku memang bukan ke
puncak Mahameru,
tujuanku hanya melepaskan penat di Ranu Kumbolo.
Restu Ibu
mungkin hanya sampai tempat ini,
karena ijinku hanya sampe Ranu Kumbolo saja
bukan di puncak Mahameru
Tiba-tiba ada yang melambai-lambai
Oh.. ternyata si penggembala wedus
datang lagi,
(sebut saja “Kakak gembala kedua”… xixixixix…)
Sekitar pukul 12'an beliau datang,
sambil terengah-engah beliau bercerita,
katanya masih ada si penggembala wedus
lagi
dan beliau tertinggal di Pos 4
(sebut saja “Kakak gembala ketiga”… xixixixi…)
Tanpa banyak kata,
“Kakak gembala pertama” langsung beranjak dari tempat memancingnya
dan menjemput “Kakak gembala ketiga”.
... xixixii...
kemudian menyusul pasangan bule dari Perancis,
lalu datang lagi dua orang kawan dari Sanggar Alfaz.
Kehadiran mereka mengusik
keinginanku untuk melanjutkan ke Puncak
Ucapan itu masih terngiang di
kepala
“masak jauh-jauh dari Surabaya
hanya
sampe Ranu Kumbolo aja Jeng…”
Kalimat itu membuat aku semakin
galau
(sebenarnya bukan hanya kalimat itu saja siy yang bikin galau… xixixiix...)
akhirnya aku putuskan untuk ikut ke puncak.
Kami berangkat berlima sekitar
pukul 14
Kutinggalkan tempat yang
mengagumkan itu,
Ku tapaki tanjakan terjal itu
Dan masih teringat senyum dan tawa
bahagia itu
Senyum Kakak gembala pertama saat melemparkan
sarungku ke langit berkali-kali sambil mengolok-olokku
"Huh!"
"Dasar… tangan usil!"
(perlu ditobatkan tuh tangannya… xixixiix...)
 |
"Suasana malam di Kalimati hampir Full Moon"
|
"Tenda beratap langit & bintang"
(♥)
Ssttttt…. Jangan bilang siapa-siapa yaa….
Sebenarnya kami berlima tidak ada yang bawa tenda dan logistik…
xixixixi…
Seingatku Kakak Gembala Pertama berpesan
“Nanti kalian ndusel di
tendanya Ade dan Lian aja”.
Sesampai di Kalimati aku tidak berharap banyak,
Tidak
berharap malam ini bisa istirahat di dalam tenda
"..uhu…uhu..huu.. "
sedihnya aku
kedinginan… :(
Ku bongkar carierku,
ambil jaket,
sleeping dan sarung
Malam itu penampilanku seperti
Ninja,
hanya terlihat hidung dan kedua mataku saja… xixixiixi…
Ade mengira aku
laki-laki… xixixiii... biarkan sajaa!
“Waaaa…… Indahnyaaa…” gumamku dalam
hati
“Bintang-bintang itu…”
Rasa sedih ini terhapus seketika
saat memandangi langit dalam sleeping bag kesayangan ini
“Waaaaa… Malam ini full moon"
(bulannya
belum bulat penuh siy… hampir bulan
purnama gitu… xixixii…)
tapi malam itu terang dan indah… malam yang istimewa,
senangnya bisa melihat ini semua di ketinggian 2.700 Mdpl kaki Gunung Semeru
Keindahan ini begitu sempurna
Api unggun...
Hawa dingin
sleeping bag...
tenda beratap bintang dan langit
serta
bulan purnama..
Satu yang merusak suasana indah ini
Yaitu cerita horor dan punggungnya
Ade!
"Huhhh!"
"Jan wasem tenan!"
"Puncak dan trauma itu"
(♥)
Seperti tahun lalu,
sekitar pukul
24 kami mulai bergegas
melanjutkan pendakian menuju puncak Mahameru.
Mungkin
kita berlima puluhan,
aku lupa tepatnya!
yang aku ingat sebelum menuju puncak kita
berdoa
memohon berkat dan rahmat Tuhan.
Masih menggigil kedinginan,
Teringat kopi susu buatan Ade
Lumayan enak juga…
Tumben!..... Xixixiiii…..
"Makasih kawan!"
Perjalanan semakin menanjak dan
berdebu
Beberapa kawan terutama yang
perempuan
Mulai muntah-muntah
Tubuh ini mulai panas
“pakai sarung aja ahhh”
Kulepas semua jaket rangkap 2 itu dan mulai
jadi ninja..xixixixi
“hangat juga yaaa”
Pantas orang
Tengger suka pake sarung,
ternyata pakai sarung hangat juga ya...
“woey… orang Tengger! Kamu bantu
mijit-mijit yang sakit yaa”
teriak salah
seorang kawan yang bawa minyak kayu
putih.
“Xixxxxiiiii… siyappp komandan”
senang juga bisa membantu.
"Jarang-jarang aku bisa berguna kayak
gini… xixixixii…."
gumamku dalam hati
Tumben ya, aku tidak ngantuk
biasanya perjalanan ke puncak
aku selalu berjalan sambil
memejamkan mata
karena menahan kantuk.
Entah kenapa semangat ini masih
membara
Apa karena ada yang menemani yaa...
xixixixixii... entahlahhh!
(pura-pura tidak tahu lagi aja ahh..)
Jalanan terjalal tak menyurutkan
semangatku
Mereka yang aku pijit-pijit sudah
pada turun dari puncak
dan balik memberi semangat padaku
Kepalan tangan mereka menambah
semangat ini.
"Makasih kawan!"
Hampir setengah 10
"fhiuww... akhirnya berhasil juga"
(xixixixii… akhirnya berhasil juga berdiri di ketinggian 3.676 meter
di atas permukaan laut)
Sebenarnya ini bukan keberhasilan,
kesuksesan atau kebanggaan.
Bagiku puncak bukanlah segalanya
Yang utama bagiku adalah perjalanan
ini,
Jalan terjal ini
Pergulatan ini
Keterbatasan ini
Panorama ini
Ke-Agungan-Mu ini
Bantuan-Mu sampai ke puncak ini
dan kawan yang setia menemaniku hingga puncak ini.
serta kawan yang masih sabar
menunggu
berjam-jam di puncak Mahameru ini.
Kucoba mengobarkan semangat
kawan-kawan
yang masih berjuang dibawah
Masih ada 4 kawan lagi.
Di bawah payung silver itu aku teriak-teriak
Tepatnya kita berdua.
(speechless ajaa dehhh... ini diluar skenario... xixixixiii)
Perlahan-lahan akhirnya mereka sampe juga ke puncak Mahameru,
Meskipun ada beberapa kawan yang memutuskan
untuk tidak melanjutkan ke puncak,
namun semangat mereka sudah terbawa
sampe puncak Mahameru.
Jadi teringat ucapan seorang kawan saat perjalanan ke G. Welirang
bagi dia puncak adalah dimana kita berdiri di tempat paling tinggi,
bukan berdiri di tempat tertinggi.
“Puncak itu ya disini!”
"Dimana kamu berdiri saat ini"
Jadi jangan bersedih kawan!
"Selamat..."
Disnilah puncakmu!
"Selamat... kamu telah sampe ke
tempat paling tinggi kawan!"
Jangan merasa gagal
Jangan merasa kalah karena belum
sampai ke tempat tertinggi
atau istilah kerennya puncak
Kamu tidak kalah
dan yang
sudah sampai puncak lebih dulu
juga bukanlah pemenang
Kamu tetap hebat!
(Kita semua hebat
dehh... xixiixixi….)
“akhirnya turun jugaa… aku lapar..” gumamku dalam hati
Kira-kira pukul 12 siang kami semua
bergegas turun
Sambil berlari aku turun
mendahului beberapa kawan yang di
depanku
Kucoba mendekati beberapa kawan
yang ada di depanku lagi tiba-tiba…
“brukkkkk..”
aku terpeleset dan
duduk termenung
Waktu itu aku tidak langsung
bangkit berdiri
Aku hanya duduk dan memandang ke
depan
Semuanya pasir dan batu
Didepanku,
kira-kira 25 meteran dari
tempat aku terpeleset
aku melihat sebelah kanan gundukan pasir dan batu besar,
lalu sebelah kiri ada orang memakai baju hitam,
semuanya serba hitam,
atasan
sampe bawahan hitam,
sepertinya dia memakai bandana atau jilbab hitam.
Aku penasaran dengan apa yang aku
lihat
“siapa yaa dia?” aku tidak yakin
dengan penglihatanku
karena aku tidak memakai kacamata
Aku mulai berdiri dan bergerak,
lumayan lama aku duduk disitu,
kurang lebih 10 menitan.
Perlahan-lahan aku mulai mendekat
Dan ternyata
“Wasemm cak!” umpatku dalam hati
Itu batu besar warnanya
hitam.
Seketika itu ku buat tanda salib
“Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh
Kudus”
Kulanjutkan perjalanan turun sambil
berlari karena jalurnya turun dan terjal
Aku belum menyadari kalau aku salah
jalur
Kulihat masih ada sampah
Tapi… lama kelamaan jalan ini
semakin menyempit
dan dinding-dinding pasirnya semakin tinggi
Aku mulai menyadari kalau aku
kesasar
ku hentikan langkahku dan mencoba
mencari punggungan..
tapiii… mustahil!
Dinding pasir itu terlalu tinggi
untuk di naiki
“Kamu kesasar sayang!”
"Woaaaa… aku kesasar…!
Tidakkkkk….!"
Kuputuskan untuk berlari turun
hingga ujung jalur ini.
Semestinya kalau tersesat salah jalur kita musti
kembali ke arah jalur semula,
tapi aku tidak mau kembali kejalur yang tadi,
aku
ga mau ketemu batu hitam tadi,
aku tidak mau naik tanjakan lagi..
aku mau jalan
yang turun,
bukan yang terjal.
Aku harus cepat-cepat lari dan mengakhiri ujung
jalur ini.
“Busyettt… ada pohon tumbang!"
Aku
mulai panik.
semakin kencang lariku
“woaaaa… ada pohon tumbang lagi"
kali ini 2 pohon yang tumbang
“aku kesasar Tuhan!
Bantu akuu…
aku
ga mau kesasar!”
komat-kamit sambil merunduk melewati pohon itu
“fhiuwww…. akhirnya sampai ujung
juga”.
Lega rasanya.
“wew.. tidak ada jalan lagi”.
Aku berhenti
karena sudah tidak ada jalan lagi,
di depanku pohon tumbang besar,
pohon-pohon
basah dan sejuk.
Tempat ini keren!
Masih alami
 |
kurang lebih gambarannya seperti ini, tapi lebih keren dari apa yang aku lihat (",)
"Berkali-kali Engkau menolongku"
(♥)
Ini pengalaman terhebat yang pernah
terjadi dalam hidupku,
semoga cukup sekali aku merasakan kepanikan yang hampir
membuatku gila.
Gila menghadapi ketakutanku sendiri..
bukan kematian yang aku
takutkan saat itu,
tapi aku takut dengan bayang-bayanganku sendiri,
takut akan
imajinasiku yang berlebihan,
aku takut sendiri,
aku takut setan,
aku takut
gelap,
aku takut ga bisa pulang..
."Tuhan tolong aku.. aku ga mau kesasar!
aku harus pulang rumah"
(sambil teriak dan sesenggukan)
aku menangis disana
sendirian,
di tengah hutan tanpa siapapun,
hanya pohon-pohon tumbang dan
pohon-pohon basah yang menemani.
Sebenarnya tempat ini indah,
aku
bersyukur bisa melihat tempat seindah ini...
pohon-pohon menjulang tinggi,
segar dan
masih basah,
sisinya di kelilingi lumut-lumut hijau dan kuning,
disamping
kiriku ada bebatuan berlumut
yg tingginya sekitar 10 meter yang sama basahnya
dengan pepohonan tadi,
suara burung-burung terdengar indah di telinga,
sebenarnya
tempat ini indah..
Tempat ini masih alami
belum terjamah seperti di tipi-tipi
luar negri… xixixxiixi…
"tapi aku takutt
Tuhan!"
aku ga mau disini sendirian,
aku ga punya air,
aku ga bawa senter,
aku
takut di hampiri pocongan dan teman-temanya....
"woaaa... Brasakkkk…!
(kakiku
terjerat dilubangan kecil)
Aku tarik-tarik tapi tidak bisa…
“Jangan-jangan ini pasir hisap”
pikirku dalam hati
Semakin aku tarik semakin tidak
bisa keluar
Aku panik!
"Tuhan, bantu aku! Kakiku kena pasir
hisap"
“Tenang sayang!
Disini ga ada pasir
hisap..”
(sepertinya ada yang mengingatkan)
Aku tarik nafas dan menenangkan
diriku…
“iyaa.. bodohnya aku!
Ini bukan
cerita dalam film holywood yang ada pasir hisapnya..
"Ini Semeru sayang!
Sadar…
sadarrr… jangan panik,
tarik nafas dan tarik kakimu perlahan-lahan…”
“fhiuww… Puji Tuhan, kakiku bisa
lepas dari lubang itu"
"Tuhan aku takut! tolong aku...
"aku ga mau kesasar! aku
harus pulang rumah"
(aku menangis lagi karena takut sendirian)
"Sayang, kamu harus berpikir,
jangan meratapi
kebodohanmu!
lakukan sesuatu, kamu harus naik ke atas".
(Ada bisikan yang
mendorong aku untuk naik keatas lagi)
"yaa.. aku harus naik keatas, mencari tempat yang lebih kering
Aku lihat sekeliling... dan melihat satu
pohon yang kering serta berdebu,
mungkin itu pohon pinus,
aku kurang yakin pohon apa itu
letak pohon itu kira-kira 3 meter diatasku
kucoba cari pijakan untuk naik...
"nahh.. itu dia, ada pijakan
dan akar-akar di sekitarnya"
"Terima kasih Tuhan,
aku
menemukan setitik jalan keluar" gumamku dalam hati.
aku mendekat dan mulai merangkak
naik sambil berpegangan pada akar-akar itu.
"Plulll"
"woaaa... tanahnya
ambrol"
(aku coba lagi mencari akar yg lebih
besar dan kuat)
"prulll... brasakkkkk!"
"woaaaaa.... Tuhan... tanahnya
ambrol lagi!
mampus akuuu!
tiga kali aku mencoba tapi aku
gagal
aku mulai panik dan kebingungan
lagi,
harapanku untuk naik mendekati pohon itu mulai menipis
Tuhann bantu aku! aku ga mau
kesasar.. aku mulai menangis lagi.
"Tuhan Yesus, bantu aku..
aku
mau pulang!
aku ga mau kesasar!"
aku merangkak naik keatas,
kucoba naik lagi meraih akar-akar
itu buat pegangan
sambil menangis dan memanggil nama-Mu..
"Tuhan Yesus,
bantu aku... aku ga mau kesasar!".
Berkali kali mengucapkan kalimat itu dan
tak mempedulikan tangan dan kaki lagi,
tak mempedulikan apa yang aku pegang,
akar
besar atau akar kecil,
enta itu berduri atau tidak,
semua aku raih untuk
mencapai tempat yang lebih tinggi,
yang ada dalam pikiranku hanya
"naik
mendekati pohon itu, aku haus!"
"Puji Tuhannnn... aku bisaa naik"
"Terima kasih Yesus, Engkau telah membantuku"
Aku haus, nafasku
tersengal-sengal..
lega rasanya melihat jalan setapak
itu..
jalan setapak ini aneh..
jalan ini terbentuk seperti
gundukan-gundukan kecil,
seperti terasiring,
membentuk anak tangga tak
beraturan,
tapi tiap gundukan ada lobangnya,
herannya lobang itu rapi seperti
ada yang menatanya…
pikirku mungkin itu leng atau rumahnya ular…
“ahhh.. entahlahhh.."
yang penting
aku bisa naik ke bukit ini”
“Terima kasih Tuhan”
Tiba-tiba aku lihat rumah kuning,
rumahnya sederhana temboknya berwarna kuning,
aku pikir itu kalimati,
aku
dekati rumah itu sambil naik keatas..
Lalu rumah itu koq tidak ada
yaaa...
“woaaaa... aku langsung teriak
manggil nama Brams,
dan Maz Uwi”
"Brammm... Maz Uwiiii… aku
kesasar"
berkali-kali aku teriak,
karena saat
itu aku mendengar suara orang..
Entah siapa mereka yang penting aku
berteriak..
ternyata Bram menyahutiku...
"Puji Tuhan, aku bisa
mendengar suara Brams"
"siapa disitu?"
"Deviiii..,
“Brams.. aku kesasar"
teriak
sambil terengah-engah
"Km harus balik ke jalur
semula" sahut brams
"aku ga mau balik, Brams"
"Km harus balikk!"
teriaknya lantang, kelihatan sedikit marah… xixixi
Aku tetap ga mau balik,
karena
sudah dari awal aku putuskan untuk tidak kembali ke saluran air itu..
Kalau
aku balik, aku harus turun hutan indah
itu lagi,
sedangkan aku naik ke bukit ini saja susah,
apalagi aku harus
melewati batu hitam yang aku kira wanita berjilbab hitam…
“hiiii… ogahhhh! Aku
takutt...”
"aku ga mau balik!”
teriakku
sedikit lantang
“kalau gitu kamu naik aja, ambil
jalur kanan”.
sepertinya itu suara maz uwix,
suara maz uwi atau Bram yaaa…?
"Ga tau ahhhh… suara siapa
itu... ga jelas!"
“ikuti arah matahari, ambil
jalur kanan”
Puji Tuhan aku melihat maz uwix di
seberang kananku..
dia kelihatan kuwecil sedang melambai lambai
“kamu harus naik! ikuti arah
matahari, ambil jalur kanan”.
Berulang
kali dia teriak seperti itu sampe bosan aku…. Xixixixixi
|
"Mencoba bertahan dan bangkit lagi"
(♥)
“aku haus.. “
Air minumku sudah habis aku teguk di batas
vegetasi bukit tadi,
saat aku melihat rumah kuning.
“aku
haus”
Sambil mengumpulkan ludah aku
mencoba bertahan dan berjuang
Berjuang dari kehausan ini,
berjuang agar tidak panik,
berjuang untuk keselamatan diriku.
aku melihat maz uwix begitu kecil,
aku ga tau tepatnya
berapa meter.
Kami terpisah oleh jurang pasir yang curam.
Kurang lebih ada 10
punggungan pasir dan lembah yang harus aku lewati
agar bisa sejalur dengan
posisi tempat maz uwi berdiri.
4 punggungan dan lembah berhasil aku lewati,
aku
semakin naik ke atas berkat panduan dan teriakan dia
("Makasih yaaa maz…
xixixixi…")
“cari
jalanan yang landai, cari pijakan dan pegangan terkuat”
“mendekat
ke arah matahari dan ambil jalur kanan”
“plukkk..
brasaakkkk…. Grubuukkkkk”
“ga bisa maz… pasirnya ambrol…
aku disini saja..”
(berharap ada yang datang menolong)
“kamu
harus mecobanya”
Kucoba naik lagi... dan...
“brukkkk… grebukkkk!
Pasir-pasir berjatuhan dan aku kembali
ketempat semula.
Tempat yang bisa menopangku.
Karena tempat itu tempat paling
aman bagiku.
Kanan kiriku lembah curam.
Aku takut Tuhan! Gumamku dalam hati
“Jangan melihat ke bawah sayang…
lihatlah atas dan dekati
matahari”.
Suara itu menangkan jiwaku.
Entah itu suara apa yang ada dalam
hatiku.
“plukkk.. brukkkk..”
“ga bisaaa mazzzz…
aku ga bisa melakukannya…
aku disini
sajaaa…”
“ya sudahh.. kamu disitu saja, jangan panik”.
Sepertinya itu
suara Rm. Widya
“iyaaa… aku disini saja”.
Kutenangkan diriku sambil berpikir
mencari pijakan terkuat..
berpikir membuat pijakan..
“Kamu harus naik! Kamu harus mencoba naik!”
suara maz Uwi
masih teriak-teriak aja
“plukkk.. brukkkk..”
“ga bisa mazz…
kalau aku coba terus, gundukan pasir penahan ini bisa ambrol
dan aku bisa jatuh ke jurang maz"
aku sudah lelah berteriak, aku haus... :'(
 |
kurang lebih gambarannya seperti ini, tapi kurang curam, punggungan dan lembahnya kurang banyak.. hehe (",) |
Kuputuskan untuk duduk disini dan menikmati panasnya Sang Surya (gayane... xixixi)
Mungkin saat itu, kurang lebih pukul 14'an
Pergulatan dalam diri mulai muncul saat aku melihat kebawah
"Ada apa dengan aku Tuhan?"
Kenapa aku bisa sampai ke tempat seperti ini.
Tempat dimana hidupku harus aku perjuangkan.
Hidup dan matiku.
aku telah melakukan kesalahan apa selama perjalanan menuju puncak Mahameru ini?
aku ga mau mati di sini Tuhan!.
Ijinku cuma satu hari
terus kalau aku tidak selamat dari tempat ini.
Pak AW gimana?
kerjaan freelanceku bagaimana?
kemarin aku sudah ditagih-tagih"
“Woaaa…
bantu aku Tuhan!
aku mau pulang... ibuku gimanaa?”
kucoba tidak ceroboh dan
gegabah lagi,
berfikir mencari pijakan.
aku kepikiran Ibu.
aku pamitan cuma sampe
Ranu Kumbolo aja.
terus kalau ibu dapat kabar tentang aku bagimana Tuhan?
Kasihan
beliau…
“aku harus pulang Tuhan!
aku ga mau lihat Ibu menangis gara-gara aku
“kudu dicoba!
Dicoba wae.. mengko tambah sore,
tambah bengi, tambah rekoso sing ngoleki”
(harus dicoba! Dicoba ajaa... nanti
semakin sore,
semakin malam, semakin kesulitan mencari)
Maz Uwi masih saja teriak-teriak.
Aku
capek teriak!
Aku haus!
Aku males menjawabnya
“Dev… Deviii... dicoba waeee”
"Deviiiiii..."
Kelihatannya dia khwatir
karena aku tidak menyahut teriakannya.
Biarkan saja dia teriak-teriak
Tenagaku sudah mulai habis
Aku haus!
“aku itu butuh dibantuan maz!
Bukan
diteriaki seperti itu” gerutuku dalam hati
Sebenarnya waktu itu aku sedikit jengkel dengan keadaan
ini.
aku berharap ada seseorang yang menolongku,
mengulurkan webbing dan menarik
aku dari jurang pasir curam itu.
Ehhh… malah di teriak-teriaki saja dari tadi
“Sayang... seharusnya kamu itu
bersyukur!
Masih ada yang memandu kamu.
Coba kamu pikir, kira-kira ada orang
yang bisa membantu kamu tidak?
Adakah orang yang bisa menolongmu dari jurang seperti itu?
Adakah orang yang bisa cepat
membawa webbing
dalam waktu sangat cepat untuk menolong kamu?”
“Tidak!”
jawabku dalam hati.
Tempat
ini sangat curam.
Hanya Dia yang mampu menolong dan menopang aku.
“Tuhan Yesus.. bantu aku! Aku mau
pulang”.
Mas Uwi masih saja teriak-teriak
“Harus dicoba!
Mengko keburu malam!
Soyo rekoso, mesakno sing liyane”
Teriakan maz Uwi benar juga,
aku harus mencobanya
kasihan teman-teman yang mencariku.
kasihan maz Uwi dari tadi rela teriak-teriak... xixixixiiii
aku ingat batas resmi
pendakian hanya sampe kalimati saja.
Kalau aku disini sampe malam terus piye?
Siapa
yang mencari aku?
Ada kah TIM SAR yang mau mencari aku?
“Tuhan Yesus bantu aku!.
Kucoba merangkak
tanpa mempedulikan pijakan,
mana yang kuat mana yang rapuh.
Aku sudah tidak
peduli lagi.
Kucoba merangkak naik sambil berdoa
“Tuhan Yesus bantu aku! Aku mau
pulang..
aku mau bertemu ibuku”
“brukkkk… braakkkk..”
Pasir pasir
berjatuhan.
Aku pun jatuh.
Tapi tak aku pedulikan sakitnya.
Aku haus!
Aku harus
melewati 6 punggungan dan lembah itu.
“Terima kasih Tuhan.. kurang 4
punggungan lagi”.
Lega rasanya bisa melewati punggungan itu.
“Terima kasih Tuhan.. aku bisa
bertemu maz uwi lagi”.
Kemudian Lian datang terengah-engah
membawa air minum.
(Sepertinya dia
berlari menuju sini… xixixixixii… maafkan merepotkan!)
“Terima kasih Tuhan, aku bisa minum…
aku bisa bertemu dengan mereka lagi”
"Makasih kawan!"
(Semoga tidak terulang lagi…. xixixixiixi)
"Terima kasih atas
anugerah kehidupan ini"
(♥)
Kenapa wajahmu tanpa senyum.
Kamu sudah selamat sayang..
selamat
dari jurang itu..
seharusnya kami senang..
“iyaa.. aku masih jengkel saat
bertemu
dengan kawanku yang satu ini. xixxiixi
“Sayang.. seharusnya kamu itu
bersyukur!
ada dia yang memandu kamu.
Sebenarnya tanpa kamu sadari, dialah perpanjangan tangan Tuhan.
Tuhan t'lah mengirimnya untuk menolong
dan memandu kamu agar bisa kembail ke jalur yang benar.
Coba kalau tidak ada dia,
mungkin saja kamu tidak bisa bertemu ibumu lagi...
xixxixixixii... mungkin looo..."
“heheee.. benar jugaa yaaa.."
"Makasih buanyakkk yaaa... maz"
maafkan kemarin sedikit nesu gituu… xixixixxii… ”
“Terima kasih Tuhan, Engkau
pertemukan aku
dengan mereka”
“Makasih Lian buat air putihnya”
“Makasih Opung buat makananya”
“Makasih Mosab buat minuman
hangatnya”
“Makasih buat Ade jugaaa…”
“Makasih Frater Brams… xixixixi”
“Makasih maz Catur buat senternya”
“Makasih Rm. Widyaa… “
“Makasih Amiii…”
"Makasih Mbak Anitaaa..."
oiyaaa...
"Makasih juga buat Ratih dan Kakangnya... xixixxiix..."
satu lagi...
"Muakasiiihh buanyaaakkkk buat Maz jogja...
... xixixixixii... makasih yaa, teriakannyaa"
“Makasih kawan-kawan semuanyaaa!"
Petualangan kali ini benar-benar
luar biasaaaa…
seruuunyaaa poll-pollan… xixxixixixi…
“Don’t try this!”
Ikuti restu ibu,
jangan mengingkarinya...
xixixixi
(",)
“Terima kasih Tuhan atas anugerah
kehidupan ini.
Engkau sungguh baik dan selalu baik padaku.
Dengan cara seperti apa aku harus membalasnya.
Kulakukan hal-hal baik untuk membalas cinta-Mu padaku
namun Engkau semakin baik kepadaku.
Lalu dengan cara seperti apa,
agar aku bisa membalas semua kebaikan-Mu".
Mahameru, 30 Juni-4 Juli 2012
Salam satu bumi, satu hati
Thanks to all photografer
(Doge Abdurrahman, Brams, BC Nusantara)
hasil jepretan kalian keren-keren,
Makasih yaaa....
- - - - - - - - - - - - - - - - - - -
#Refleksi
Berbagai pertolongan Tuhan yang ajaib bisa terjadi,
apabila kita mengandalkan kekuatan-Nya lebih dari apapun.
Tanpa kamu sadari Tuhan sebenarnya memberikan kuasa secara langsung kepada anak-anakNya.
"Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19)
Dasyat bukan ayat tersebut!
heheheee...
jadi bersyukurlah karena kamu t'lah dipilih menjadi anak-anak-Nya.
Tuhan memampukan kita untuk mampu mengatasi berbagai masalah dalam hidup ini bahkan mengalahkan roh-roh jahat.
Ini akan memberi perbedaan nyata antara berjalan mengandalkan diri sendiri dan mengandalkan Tuhan.
"Dan itu nyata bagiku"
setiap kali aku menyebut nama-Nya
dan meminta pertolongan-Nya
DIA selalu menolong,
dan akhirnya,
aku pun bisa melakukannya
melakukan hal-hal yang sulit bagiku
“Terima kasih Tuhan atas anugerah kehidupan ini.
(♥)