Kecup keningku
Bunda...
itu yang kuingini
dikala senja mulai menemani
dikala senja merenggut sinar wajahnya
dikala senja semakin pekat
dikala senja sudah menjadi malam



Kecup kening ini...
karena kecupanmu membuatku tenang
melewati malam-malam
menanti hadirnya sinar pagi hari
sinar harapan,
sinar yang mampu membuat
hati ini menari-nari


Bunda...
 salamku..
padamu yang penuh rahmat.

|
|
|




Sampaikan pada DIA
harapan,
pengampunan,
serta permohonan ini



(♥)


"Bantu aku
berdamai dengan diriku"
agar damai itu senantiasa
membawaku
pada rasa syukur..



Bunda..
Terpujilah engkau diantara wanita,
temani aku disetiap malamku,
kecup kening ini
disaat aku memegangmu,
kecup kening ini,
 terlebih disaat ku berosari ('',)









(DikalaSenja♥MenantiPagi)







Setiap petualangan selalu ada cerita,
Terima kasih Tuhan...

"Puncak Mahameru dari Kalimati 2.700 Mdpl"



Hari itu Juni 30 aku bisa berpetualang lagi.
Kutinggalkan semua pekerjaan yang membuatku penat.
Aku tak peduli lagi...
Sudah! 
aku sudah tak sanggup lagi...
Aku pengen keluar!
(Jangan dulu sayang, cobalah bertahan beberapa bulan lagi, refreshing  ajaaa… xixixxi…)
Aku berangkat dengan kebohongan.
Ijin cuma satu hari, padahal perjalanan itu memakan waktu 5 hari 4 malam.
Tuhan maafkan aku..
Malam itu Mario ulang tahun yang ke 3th.
Kadonya sudah siap tapi tidak sempurna, 
tanpa tanda ucapan dan foto yang semestinya harus aku siapkan
 tapi belum selesai sampai malam itu… :(
(Maafkan malam itu tidak bisa merayakan bersama)








"Ranu Pani (salah satu titik untuk berangkat mendaki G. Semeru)"



       
         "Pagi yang cerah.."
      (♥)

Pagi itu cerah sekali,
udara sejuk menyusup kesendi-sendi
Hari itu Minggu pertama di bulan Juli
Tawa ria sahabat alam pun melengkapi kecerahan pagi itu..
Tidak ada sesuatu yang ganjal pagi itu, semuanya baik-baik saja,
Hanya saja suara dengkuran yang tidak manusiawi yang mengusik hati dan telinga…
(semoga saja dia cepat bertobat… xixixixi…)

Pagi itu kami berempat puluh tiga, 
dengan semangat yang membara kami siap menaiki truck menuju Ranu Pani.. 
Semangat kami tetap membara 
meski kami hampir 1 jam berdiri di atas truck
menunggu bekal makan siang.


"Danau Ranu Kumbolo (Ranu berarti danau, kumbolo berarti kumpul)"

       


 "Lelah terbayar sudah.."
      (♥)

Pesonamu sungguh luar biasa...
 Indah...
mengagumkan...
Lelah ini terbayar sudah saat pertama kali memandangmu
Jalan kaki selama 6 jam dari Ranu Pani yang lumayan melelahkan, 
kini  terhapus sudah 
ketika mata ini dimanjakan dengan kilauan air 
dari Danau Ranu Kumbolo



Perjalanan kali ini sangat istimewa,
Entah kenapa?
aku tidak tau… xixixixii...  
(sebenarnya tahu siy... tapi pura-pura tidak tahu aja ahh… xixixixii…)








"Tanjakan Cinta"


Sekitar pukul 10 sahabat alam beriringan melewati tanjakan cinta.
Tanjakan cinta adalah sebuah jalur di Semeru
 setelah Ranu Kumbolo menuju arah Oro - Oro Ombo.
Sesuai namanya jalur tadi memang sangat menanjak, terjal dan lumayan jauh.
Semeru adalah gunung tertinggi di tanah jawa,
selain itu Semeru menyimpan banyak mitos dan misteri.

Ada mitos dan cerita tentang Tanjakan Cinta ini.
Jika sedang menjalin cinta
dan sanggup melewati tanjakan cinta tanpa berhenti 
serta menoleh kebelakang,
maka cinta itu akan abadi,
akan diteruskan menuju pernikahan.
Tempo dulu ada suatu kisah dari mulut ke mulut,
ada pasangan mendaki Semeru,
sesampai di Tanjakan Cinta mereka mendaki berdua,
tetapi si perempuan kelelahan dan berhenti
sedangkan si laki - laki terus tanpa henti sampai ujung,
dan selanjutnya baca disini..


Bisa percaya bisa juga tidak karena itu hanyalah mitos,
yang jelas jodoh hanya kuasa Tuhan.
Tapi bagi yang percaya ya sebaiknya silahkan mencoba seperti itu.
Bagi laki-laki normal 

jika melewati jalur Tanjakan Cinta ini,
sebaiknya bawalah pasangan perempuan 

bukan laki - laki lho….

xixixii….





Panorama ini sulit dilupakan
Keindahan serta keagungannya begitu mengagumkan
Pesonanya yang eksotis membuat
Tak seorangpun sanggup melupakan tempat ini

(kecuali dia amnesia… atau benar-benar gila… xixixix)





Indah, Eksotis, Agung dan Hangat
Tempat berkumpul para sahabat alam
beristirahat sejenak, bergurau dan tertawa
Siapa yang mampu melupakan pesona indah ini?


Kenangan ini
Tawa ria para sahabat
Saling berpeluk, moment pun diabadikan
































Satu persatu mereka mulai tak terlihat dari bukit 
tanjakan cinta itu.





























Aku masih singgah di sini,
Kami bertiga tepatnya
aku, si penggembala wedus dan satu kawan perempuanku 
yang tinggal di tempat ini,
mereka berdua kurang enak badan.
(Her/his body not delicious itu kata para alay jaman sekarang... xixixixi…)




Suasana ini terlihat sempurna
Si gembala memancing 
(aku tidak yakin beliau bisa berhasil mendapat ikan… xixixiix..)
aku dan kawanku duduk di tepi danau, 
bercerita, berbagi pemikiran
ramah, bersahabat,
tutur katanya sederhana, 
pemikirannya tidak begitu rumit
Satu hal yang masih aku ingat dari ucapannya
“aku tidak peduli orang mau bilang apa? 
Karena cinta itu adalah anugerah dari Tuhan
dan yang menentukan dosa itu adalah Tuhan.. 
bukan mereka!

Jadi ingat film CinTa (Cina, Tuhan dan Anisa)
(speechless dehhh....)







Bersyukur saat ini bisa menikmati hembusan angin di tepi danau ini,
Bercerita dan sesaat melupakan semua pekerjaanku..
meninggalkan penat!
Meninggalkan segala yang ada dalam computer



"Terima kasihTuhan atas hari ini"

..............
^♥^



Aku menetap di Ranu Kumbolo 
karena kesepakatan dengan Ade dan Lian 
*nama sebenarnya

Selain itu tujuanku memang bukan ke puncak Mahameru, 
tujuanku hanya melepaskan penat di Ranu Kumbolo.
Restu Ibu mungkin hanya sampai tempat ini,
karena ijinku hanya sampe Ranu Kumbolo saja
bukan di puncak Mahameru




Tiba-tiba ada yang melambai-lambai
Oh.. ternyata si penggembala wedus datang lagi, 
(sebut saja “Kakak gembala kedua”…  xixixixix…)




Sekitar pukul 12'an beliau datang, 
sambil terengah-engah beliau bercerita,
 katanya masih ada si penggembala wedus lagi
dan beliau tertinggal di Pos 4
(sebut saja “Kakak gembala ketiga”… xixixixi…)
Tanpa banyak kata, 

“Kakak gembala pertama” langsung beranjak dari tempat memancingnya 
dan menjemput “Kakak gembala ketiga”.
... xixixii... 
 kemudian menyusul pasangan bule dari Perancis,
lalu datang lagi dua orang kawan dari Sanggar Alfaz.




Kehadiran mereka mengusik keinginanku untuk melanjutkan ke Puncak
Ucapan itu masih terngiang di kepala
“masak jauh-jauh dari Surabaya 
hanya sampe Ranu Kumbolo aja Jeng…”
Kalimat itu membuat aku semakin galau
(sebenarnya bukan hanya kalimat itu saja siy yang bikin galau… xixixiix...)
akhirnya aku putuskan untuk ikut ke puncak.




Kami berangkat berlima sekitar pukul 14
Kutinggalkan tempat yang mengagumkan itu,
























Ku tapaki tanjakan terjal itu
Dan masih teringat senyum dan tawa bahagia itu
Senyum Kakak gembala pertama saat melemparkan sarungku ke langit berkali-kali sambil mengolok-olokku



"Huh!" 
"Dasar… tangan usil!"
(perlu ditobatkan tuh tangannya… xixixiix...)




"Suasana malam di Kalimati hampir Full Moon"

 "Tenda beratap langit & bintang"
      (♥)

Ssttttt…. Jangan bilang siapa-siapa yaa…. 
Sebenarnya kami berlima  tidak ada yang bawa tenda dan logistik… xixixixi…
Seingatku Kakak Gembala Pertama berpesan 
“Nanti kalian ndusel di tendanya Ade dan Lian aja”. 
Sesampai di Kalimati aku tidak berharap banyak, 
Tidak berharap malam ini bisa istirahat di dalam tenda
"..uhu…uhu..huu.. "
sedihnya aku kedinginan… :(


Ku bongkar carierku, 
ambil jaket, sleeping dan sarung
Malam itu penampilanku seperti Ninja, 
hanya terlihat hidung dan kedua mataku saja… xixixiixi… 
Ade mengira aku laki-laki… xixixiii... biarkan sajaa!
“Waaaa…… Indahnyaaa…” gumamku dalam hati
“Bintang-bintang itu…”
Rasa sedih ini terhapus seketika 
saat memandangi langit dalam sleeping bag kesayangan ini


“Waaaaa… Malam ini full moon"
(bulannya belum bulat penuh siy… hampir  bulan purnama gitu… xixixii…)
 tapi malam itu terang dan indah… malam yang istimewa, senangnya bisa melihat ini semua di ketinggian 2.700 Mdpl kaki Gunung Semeru


Keindahan ini begitu sempurna
Api unggun...
Hawa dingin
sleeping bag...
tenda beratap bintang  dan langit
serta
bulan purnama..
Satu yang merusak suasana indah ini
Yaitu cerita horor dan punggungnya Ade!
"Huhhh!"
"Jan wasem tenan!"






 "Puncak dan trauma itu"
      (♥)


Seperti tahun lalu, 
sekitar pukul 24 kami mulai bergegas 
melanjutkan pendakian menuju puncak Mahameru.
Mungkin kita berlima puluhan, 
aku lupa tepatnya!
 yang aku ingat sebelum menuju puncak kita berdoa 
memohon berkat dan rahmat Tuhan.




Masih menggigil kedinginan,
Teringat kopi susu buatan Ade
Lumayan enak juga…
Tumben!..... Xixixiiii…..
"Makasih kawan!"

Perjalanan semakin menanjak dan berdebu
Beberapa kawan terutama yang perempuan
Mulai muntah-muntah
Tubuh ini mulai panas
“pakai sarung aja ahhh”
 Kulepas semua jaket rangkap 2 itu dan mulai jadi ninja..xixixixi
“hangat juga yaaa”
Pantas orang Tengger suka pake sarung, 
ternyata pakai sarung hangat juga ya...
“woey… orang Tengger! Kamu bantu mijit-mijit yang sakit yaa”
 teriak salah seorang  kawan yang bawa minyak kayu putih.
“Xixxxxiiiii… siyappp komandan” 
senang juga bisa membantu.
"Jarang-jarang aku bisa berguna kayak gini… xixixixii…."
gumamku dalam hati


Tumben ya, aku tidak ngantuk
biasanya perjalanan ke puncak 
aku selalu berjalan sambil memejamkan mata 
karena menahan kantuk.
Entah kenapa semangat ini masih membara
Apa karena ada yang menemani yaa...
xixixixixii... entahlahhh!
(pura-pura tidak tahu lagi aja ahh..)





Jalanan terjalal tak menyurutkan semangatku
Mereka yang aku pijit-pijit sudah pada turun dari puncak 
dan balik memberi semangat padaku
Kepalan tangan mereka menambah semangat ini.
"Makasih kawan!"





Hampir setengah 10 
"fhiuww... akhirnya berhasil juga"
(xixixixii… akhirnya berhasil juga berdiri di ketinggian 3.676 meter
di atas permukaan laut)
Sebenarnya ini bukan keberhasilan, kesuksesan atau kebanggaan.
 Bagiku puncak bukanlah segalanya
Yang utama bagiku adalah perjalanan ini,
Jalan terjal ini
Pergulatan ini
Keterbatasan ini
Panorama ini
Ke-Agungan-Mu ini
Bantuan-Mu sampai ke puncak ini
dan kawan yang setia menemaniku hingga puncak ini.
serta kawan yang masih sabar 
menunggu berjam-jam di puncak Mahameru ini.




Kucoba mengobarkan semangat kawan-kawan
 yang masih berjuang dibawah
Masih ada 4 kawan lagi.
Di bawah payung silver itu aku teriak-teriak
Tepatnya kita berdua.
(speechless ajaa dehhh... ini diluar skenario... xixixixiii)



Perlahan-lahan akhirnya mereka sampe juga ke puncak Mahameru,
Meskipun ada beberapa kawan yang memutuskan 
untuk tidak melanjutkan ke puncak,
namun semangat mereka sudah terbawa sampe puncak Mahameru.
Jadi teringat ucapan seorang kawan saat perjalanan ke G. Welirang
bagi dia puncak adalah dimana kita berdiri di tempat paling tinggi,
bukan berdiri di tempat tertinggi.

“Puncak itu ya disini!”
"Dimana kamu berdiri saat ini"


Jadi jangan bersedih kawan!


"Selamat..."
Disnilah puncakmu!
"Selamat... kamu telah sampe ke tempat paling tinggi kawan!"


Jangan merasa gagal
Jangan merasa kalah karena belum sampai ke tempat tertinggi
 atau istilah kerennya puncak
Kamu tidak kalah 
dan yang sudah sampai puncak lebih dulu 
juga bukanlah pemenang
Kamu tetap hebat! 
(Kita semua hebat dehh... xixiixixi….)



“akhirnya turun jugaa… aku lapar..” gumamku dalam hati





Kira-kira pukul 12 siang kami semua bergegas turun
 Sambil berlari aku  turun
mendahului beberapa kawan yang di depanku
Kucoba mendekati beberapa kawan yang ada di depanku lagi tiba-tiba…
“brukkkkk..” 
aku terpeleset dan duduk termenung
Waktu itu aku tidak langsung bangkit berdiri
Aku hanya duduk dan memandang ke depan
Semuanya pasir dan batu



Didepanku, 
kira-kira 25 meteran dari tempat aku terpeleset 
aku melihat sebelah kanan gundukan pasir dan batu besar, 
lalu sebelah kiri ada orang memakai baju hitam, 
semuanya serba hitam, 
atasan sampe bawahan hitam, 
sepertinya dia memakai bandana atau jilbab hitam.
Aku penasaran dengan apa yang aku lihat
“siapa yaa dia?” aku tidak yakin dengan penglihatanku 
karena aku tidak memakai kacamata
Aku mulai berdiri dan bergerak, 
lumayan lama aku duduk disitu,
 kurang lebih 10 menitan.
Perlahan-lahan aku mulai mendekat
Dan ternyata
“Wasemm cak!” umpatku dalam hati
Itu batu besar warnanya hitam.
Seketika  itu ku buat tanda salib
“Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus

Kulanjutkan perjalanan turun sambil berlari karena jalurnya turun dan terjal
Aku belum menyadari kalau aku salah jalur
Kulihat masih ada sampah
Tapi… lama kelamaan jalan ini semakin menyempit 
dan dinding-dinding pasirnya semakin tinggi
Aku mulai menyadari kalau aku kesasar
ku hentikan langkahku dan mencoba mencari punggungan..
tapiii… mustahil!
Dinding pasir itu terlalu tinggi untuk di naiki
“Kamu kesasar sayang!”
"Woaaaa… aku kesasar…!
Tidakkkkk….!"
Kuputuskan untuk berlari turun hingga ujung jalur ini. 
Semestinya kalau tersesat salah jalur kita musti kembali ke arah jalur semula,
 tapi aku tidak mau kembali kejalur yang tadi,
 aku ga mau ketemu batu hitam tadi, 
aku tidak mau naik tanjakan lagi.. 
aku mau jalan yang turun, 
bukan yang terjal. 
Aku harus cepat-cepat lari dan mengakhiri ujung jalur ini.
“Busyettt… ada pohon tumbang!"
Aku mulai panik. 
semakin kencang lariku
“woaaaa… ada pohon tumbang lagi"
kali ini 2 pohon yang tumbang

“aku kesasar Tuhan! 
Bantu akuu… 
aku ga mau kesasar!” 
komat-kamit sambil merunduk melewati pohon itu
“fhiuwww…. akhirnya sampai ujung juga”.
 Lega rasanya.
“wew.. tidak ada jalan lagi”. 
Aku berhenti karena sudah tidak ada jalan lagi, 
di depanku pohon tumbang besar, 
pohon-pohon basah dan sejuk.
 Tempat ini keren! 
Masih alami

kurang lebih gambarannya seperti ini, tapi lebih keren dari apa yang aku lihat (",)



"Berkali-kali Engkau menolongku"
      (♥)

Ini pengalaman terhebat yang pernah terjadi dalam hidupku, 
semoga cukup sekali aku merasakan kepanikan yang hampir membuatku gila. 
Gila menghadapi ketakutanku sendiri.. 
bukan kematian yang aku takutkan saat itu, 
tapi aku takut dengan bayang-bayanganku sendiri, 
takut akan imajinasiku yang berlebihan, 
aku takut sendiri, 
aku takut setan, 
aku takut gelap, 
aku takut ga bisa pulang..
."Tuhan tolong aku.. aku ga mau kesasar! 
aku harus pulang rumah" 
(sambil teriak dan sesenggukan)




aku menangis disana sendirian,
 di tengah hutan tanpa siapapun, 
hanya pohon-pohon tumbang dan pohon-pohon basah yang menemani.
Sebenarnya tempat ini indah, 
aku bersyukur bisa melihat tempat seindah ini... 
pohon-pohon menjulang tinggi,
 segar dan masih basah, 
sisinya di kelilingi lumut-lumut hijau dan kuning, 
disamping kiriku ada bebatuan berlumut 
yg tingginya sekitar 10 meter yang sama basahnya 
dengan pepohonan tadi, 
suara burung-burung terdengar indah di telinga, 
sebenarnya tempat ini indah..
Tempat ini masih alami
belum terjamah seperti di tipi-tipi luar negri… xixixxiixi…  
"tapi aku takutt Tuhan!"
aku ga mau disini sendirian, 
aku ga punya air, 
aku ga bawa senter, 
aku takut di hampiri pocongan dan teman-temanya.... 




"woaaa... Brasakkkk…! 
(kakiku terjerat dilubangan kecil)




Aku tarik-tarik tapi tidak bisa…


“Jangan-jangan ini pasir hisap” 
pikirku dalam hati
Semakin aku tarik semakin tidak bisa keluar
Aku panik!
"Tuhan, bantu aku! Kakiku kena pasir hisap"




“Tenang sayang! 
Disini ga ada pasir hisap..” 
(sepertinya ada yang mengingatkan)

Aku tarik nafas dan menenangkan diriku…


“iyaa.. bodohnya aku! 
Ini bukan cerita dalam film holywood yang ada pasir hisapnya.. 
"Ini Semeru sayang! 
Sadar… sadarrr… jangan panik, 
tarik nafas dan tarik kakimu perlahan-lahan…”




“fhiuww… Puji Tuhan, kakiku bisa lepas dari lubang itu"




"Tuhan aku takut! tolong aku... 
"aku ga mau kesasar! aku harus pulang rumah" 
(aku menangis lagi karena takut sendirian)
"Sayang, kamu harus berpikir,
 jangan meratapi kebodohanmu! 
lakukan sesuatu, kamu harus naik ke atas". 
(Ada bisikan yang mendorong aku untuk naik keatas lagi)

"yaa.. aku harus naik keatas, mencari tempat yang lebih kering
Aku lihat sekeliling... dan melihat satu pohon yang kering serta berdebu, 
mungkin itu pohon pinus, 
aku kurang yakin pohon apa itu
letak pohon itu kira-kira 3 meter diatasku
kucoba cari pijakan untuk naik...

"nahh.. itu dia, ada pijakan dan akar-akar di sekitarnya"
"Terima kasih Tuhan,
aku menemukan setitik jalan keluar" gumamku dalam hati.
aku mendekat dan mulai merangkak naik sambil berpegangan pada akar-akar itu.


"Plulll"
"woaaa... tanahnya ambrol"
(aku coba lagi mencari akar yg lebih besar dan kuat)

"prulll... brasakkkkk!"
"woaaaaa.... Tuhan... tanahnya ambrol lagi! 
mampus akuuu!
tiga kali aku mencoba tapi aku gagal
aku mulai panik dan kebingungan lagi,
 harapanku untuk naik mendekati pohon itu mulai menipis
Tuhann bantu aku! aku ga mau kesasar.. aku mulai menangis lagi.
"Tuhan Yesus, bantu aku.. 
aku mau pulang!
aku ga mau kesasar!"




aku merangkak naik keatas,
 kucoba naik lagi meraih akar-akar itu buat pegangan 
sambil menangis dan memanggil nama-Mu.. 
"Tuhan Yesus, bantu aku... aku ga mau kesasar!". 
Berkali kali mengucapkan kalimat itu dan tak mempedulikan tangan dan kaki lagi,
 tak mempedulikan apa yang aku pegang, 
akar besar atau akar kecil, 
enta itu berduri atau tidak, 
semua aku raih untuk mencapai tempat yang lebih tinggi,
yang ada dalam pikiranku hanya
 "naik mendekati pohon itu, aku haus!"



"Puji Tuhannnn... aku bisaa naik"
"Terima kasih Yesus, Engkau telah membantuku"
Aku haus, nafasku tersengal-sengal..
lega rasanya melihat jalan setapak itu..
jalan setapak ini aneh..
jalan ini terbentuk seperti gundukan-gundukan kecil,
 seperti terasiring,
 membentuk anak tangga tak beraturan, 
tapi tiap gundukan ada lobangnya,
 herannya lobang itu rapi seperti ada yang menatanya… 
pikirku mungkin itu leng atau rumahnya ular…
“ahhh.. entahlahhh.." 
yang penting aku bisa naik ke bukit ini”
“Terima kasih Tuhan”




Tiba-tiba aku lihat rumah kuning, 
rumahnya sederhana temboknya berwarna kuning, 
aku pikir itu kalimati, 
aku dekati rumah itu sambil naik keatas..
Lalu rumah itu koq tidak ada yaaa...
“woaaaa... aku langsung teriak manggil nama Brams, 
dan Maz Uwi”
"Brammm... Maz Uwiiii… aku kesasar"
berkali-kali aku teriak, 
karena saat itu aku mendengar suara orang..
Entah siapa mereka yang penting aku berteriak..
ternyata Bram menyahutiku...
"Puji Tuhan, aku bisa mendengar suara Brams"

"siapa disitu?"

"Deviiii..,
“Brams.. aku kesasar"
 teriak sambil terengah-engah

"Km harus balik ke jalur semula" sahut brams

"aku ga mau balik, Brams"

"Km harus balikk!" 
teriaknya lantang, kelihatan sedikit marah… xixixi


Aku tetap ga mau balik, 
karena sudah dari awal aku putuskan untuk tidak kembali ke saluran air itu..
 Kalau aku balik, aku  harus turun hutan indah itu lagi, 
sedangkan aku naik ke bukit ini saja susah, 
apalagi aku harus melewati batu hitam yang aku kira wanita berjilbab hitam…
 “hiiii… ogahhhh! Aku takutt...”


"aku ga mau balik!” 
teriakku sedikit lantang
“kalau gitu kamu naik aja, ambil jalur kanan”.
 sepertinya itu suara maz uwix, 
suara maz uwi atau  Bram yaaa…? 

"Ga tau ahhhh… suara siapa itu... ga jelas!"

“ikuti arah matahari, ambil jalur  kanan”

Puji Tuhan aku melihat maz uwix di seberang kananku.. 
dia kelihatan kuwecil sedang melambai lambai

“kamu harus naik! ikuti arah matahari, ambil jalur  kanan”. 
Berulang kali dia teriak seperti itu sampe bosan aku…. Xixixixixi
























"Mencoba bertahan dan bangkit lagi"
(♥)



“aku haus..
Air minumku sudah habis aku teguk di batas vegetasi bukit tadi,
saat aku melihat rumah kuning.

 “aku haus”

Sambil mengumpulkan ludah aku mencoba bertahan dan berjuang
Berjuang dari kehausan ini, 
berjuang agar tidak panik, 
berjuang untuk keselamatan diriku.
aku melihat maz uwix begitu kecil, 
aku ga tau tepatnya berapa meter. 
Kami terpisah oleh jurang pasir yang curam. 
Kurang lebih ada 10 punggungan pasir dan lembah yang harus aku lewati 
agar bisa sejalur dengan posisi tempat maz uwi berdiri. 
4 punggungan dan lembah berhasil aku lewati, 
aku semakin naik ke atas berkat panduan dan teriakan dia
("Makasih yaaa maz… xixixixi…")


                “cari jalanan yang landai, cari pijakan dan pegangan terkuat”
                “mendekat ke arah matahari dan ambil jalur kanan”

                “plukkk.. brasaakkkk…. Grubuukkkkk”
               ga bisa maz… pasirnya ambrol… aku disini saja.. 
(berharap ada yang datang menolong)
              
  “kamu harus mecobanya”

Kucoba naik lagi... dan...

“brukkkk… grebukkkk! 
Pasir-pasir berjatuhan dan aku kembali ketempat semula. 
Tempat yang bisa menopangku. 
Karena tempat itu tempat paling aman bagiku. 
Kanan kiriku lembah curam. 
Aku takut Tuhan! Gumamku dalam hati
“Jangan melihat ke bawah sayang…
 lihatlah atas dan dekati matahari”
Suara itu menangkan jiwaku. 
Entah itu suara apa yang ada dalam hatiku.


“plukkk.. brukkkk..”

“ga bisaaa mazzzz… 
aku ga bisa melakukannya
 aku disini sajaaa…”

“ya sudahh.. kamu disitu saja, jangan panik”. 
Sepertinya itu suara Rm. Widya

“iyaaa… aku disini saja”. 
Kutenangkan diriku sambil berpikir mencari pijakan terkuat..
berpikir membuat pijakan..

“Kamu harus naik! Kamu harus mencoba naik!” 
suara maz Uwi masih teriak-teriak aja


“plukkk.. brukkkk..”


“ga bisa mazz… 
kalau aku coba terus, gundukan pasir penahan ini bisa ambrol
dan aku bisa jatuh ke jurang maz"
aku sudah lelah berteriak, aku haus... :'(






kurang lebih gambarannya seperti ini, tapi kurang curam,
punggungan dan lembahnya kurang banyak.. hehe (",)
 




Kuputuskan untuk duduk disini dan menikmati panasnya Sang Surya (gayane... xixixi)
Mungkin saat itu, kurang lebih pukul 14'an
Pergulatan dalam diri mulai muncul saat aku melihat kebawah

"Ada apa dengan aku Tuhan?"
Kenapa aku bisa sampai ke tempat seperti ini.
Tempat dimana hidupku harus aku perjuangkan.
Hidup dan matiku.
aku telah melakukan kesalahan apa selama perjalanan menuju puncak Mahameru ini?
aku ga mau mati di sini Tuhan!.
Ijinku cuma satu hari
terus kalau aku tidak selamat dari tempat ini.
Pak AW gimana?
kerjaan freelanceku bagaimana?
kemarin aku sudah ditagih-tagih"


                “Woaaa… bantu aku Tuhan! 
aku mau pulang... ibuku gimanaa?”
kucoba tidak ceroboh dan gegabah lagi, 
berfikir mencari pijakan. 
aku kepikiran Ibu.
aku pamitan cuma sampe Ranu Kumbolo aja. 
terus kalau ibu dapat kabar tentang aku bagimana Tuhan?
 Kasihan beliau…


                “aku harus pulang Tuhan! 
aku ga mau lihat Ibu menangis gara-gara aku

 “kudu dicoba! 
Dicoba wae.. mengko tambah sore, 
tambah bengi, tambah rekoso sing ngoleki”
 (harus dicoba! Dicoba ajaa... nanti semakin sore, 
semakin malam, semakin kesulitan mencari)

Maz Uwi masih saja teriak-teriak. 


Aku capek teriak! 
Aku haus! 
Aku males menjawabnya


“Dev… Deviii...   dicoba waeee”


"Deviiiiii..."


Kelihatannya dia khwatir karena aku tidak menyahut teriakannya.

Biarkan saja dia teriak-teriak
Tenagaku sudah mulai habis
Aku haus!


“aku itu butuh dibantuan maz! 
Bukan diteriaki seperti itu” gerutuku dalam hati
Sebenarnya waktu itu aku sedikit jengkel dengan keadaan ini. 
aku berharap ada seseorang yang menolongku, 
mengulurkan webbing dan menarik aku dari jurang pasir curam itu. 
Ehhh… malah di teriak-teriaki saja dari tadi


“Sayang... seharusnya kamu itu bersyukur! 
Masih ada yang memandu kamu. 
Coba kamu pikir, kira-kira ada orang yang bisa membantu kamu tidak? 
Adakah orang yang bisa menolongmu dari jurang  seperti itu? 
Adakah orang yang bisa cepat membawa webbing 
dalam waktu sangat cepat untuk menolong kamu?”


“Tidak!” 
jawabku dalam hati. 

Tempat ini sangat curam.
 Hanya Dia yang mampu menolong dan menopang aku.
“Tuhan Yesus.. bantu aku! Aku mau pulang”.



Mas Uwi masih saja teriak-teriak

“Harus dicoba! 
Mengko keburu malam! 
Soyo rekoso, mesakno sing liyane”


Teriakan maz Uwi benar juga,
aku harus mencobanya
kasihan teman-teman yang mencariku.
kasihan maz Uwi dari tadi rela teriak-teriak... xixixixiiii
 aku ingat batas resmi pendakian hanya sampe kalimati saja. 
Kalau aku disini sampe malam terus piye? 
Siapa yang mencari aku? 
Ada kah TIM SAR yang mau mencari aku?


“Tuhan Yesus bantu aku!. 
Kucoba merangkak tanpa mempedulikan pijakan, 
mana yang kuat mana yang rapuh. 
Aku sudah tidak peduli lagi. 
Kucoba merangkak naik sambil berdoa
 “Tuhan Yesus bantu aku! Aku mau pulang.. 
aku mau bertemu ibuku”


“brukkkk… braakkkk..” 
Pasir pasir berjatuhan. 
Aku pun jatuh. 
Tapi tak aku pedulikan sakitnya. 
Aku haus! 
Aku harus melewati 6 punggungan dan lembah itu.
“Terima kasih Tuhan.. kurang 4 punggungan lagi”. 
Lega rasanya bisa melewati punggungan itu.


“Terima kasih Tuhan.. aku bisa bertemu maz uwi lagi”.
Kemudian Lian datang terengah-engah membawa air minum. 
(Sepertinya dia berlari menuju sini… xixixixixii… maafkan merepotkan!)

“Terima kasih Tuhan, aku bisa minum… 
aku bisa bertemu dengan mereka lagi”

"Makasih kawan!"
(Semoga tidak terulang lagi…. xixixixiixi)








"Terima kasih atas 
anugerah kehidupan ini"
(♥)


Kenapa wajahmu tanpa senyum.

Kamu sudah selamat sayang.. 

selamat dari jurang itu..

 seharusnya kami senang..

“iyaa.. aku masih jengkel saat bertemu
dengan kawanku yang satu ini. xixxiixi



“Sayang.. seharusnya kamu itu bersyukur!
ada dia yang memandu kamu.
Sebenarnya tanpa kamu sadari, dialah perpanjangan tangan Tuhan.
Tuhan t'lah mengirimnya untuk menolong
dan memandu kamu agar bisa kembail ke jalur yang benar.
Coba kalau tidak ada dia,
mungkin saja kamu tidak bisa bertemu ibumu lagi...
xixxixixixii... mungkin looo..."




“heheee.. benar jugaa yaaa.." 

"Makasih buanyakkk yaaa... maz" 

maafkan kemarin sedikit nesu gituu… xixixixxii… ”







“Terima kasih Tuhan, Engkau pertemukan aku
dengan mereka”




“Makasih Lian buat air putihnya”

“Makasih Opung buat makananya”

“Makasih Mosab buat minuman hangatnya”

“Makasih buat Ade jugaaa…”

“Makasih Frater Brams… xixixixi”

“Makasih maz Catur buat senternya”

“Makasih Rm. Widyaa… “

“Makasih Amiii…”
"Makasih Mbak Anitaaa..."
oiyaaa...
"Makasih juga buat Ratih dan Kakangnya... xixixxiix..."
satu lagi...
"Muakasiiihh buanyaaakkkk buat Maz Uwiku... 
... xixixixixii... makasih yaa, teriakannyaa"

“Makasih kawan-kawan semuanyaaa!"



Petualangan kali ini benar-benar luar biasaaaa… 

seruuunyaaa poll-pollan… xixxixixixi…

 “Don’t try this!”



Ikuti restu ibu, 

jangan mengingkarinya...

 xixixixi



(",)











“Terima kasih Tuhan atas anugerah kehidupan ini. 

Engkau sungguh baik dan selalu baik padaku.
Dengan cara seperti apa aku harus membalasnya.
Kulakukan hal-hal baik untuk membalas cinta-Mu padaku
namun Engkau semakin baik kepadaku.
Lalu dengan cara seperti apa,
agar aku bisa membalas semua kebaikan-Mu".




























Mahameru, 30 Juni-4 Juli 2012
Salam satu bumi, satu hati









Thanks to all photografer 
(Doge Abdurrahman, Brams, BC Nusantara) 
hasil jepretan kalian keren-keren,
Makasih yaaa....






- - - - - - - - - - - - - - - - - - -
#Refleksi



Berbagai pertolongan Tuhan yang ajaib bisa terjadi, 
apabila kita mengandalkan kekuatan-Nya lebih dari apapun. 
Tanpa kamu sadari Tuhan sebenarnya memberikan kuasa secara langsung kepada anak-anakNya.
"Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19)
Dasyat bukan ayat tersebut!
heheheee... 


jadi bersyukurlah karena kamu t'lah dipilih menjadi anak-anak-Nya.
Tuhan memampukan kita untuk mampu mengatasi berbagai masalah dalam hidup ini bahkan mengalahkan roh-roh jahat.
 Ini akan memberi perbedaan nyata antara berjalan mengandalkan diri sendiri dan mengandalkan Tuhan.






"Dan itu nyata bagiku"
setiap kali aku menyebut nama-Nya
dan meminta pertolongan-Nya
DIA selalu menolong,
dan akhirnya, 
aku pun bisa melakukannya
melakukan hal-hal yang sulit bagiku

“Terima kasih Tuhan atas anugerah kehidupan ini.





(♥)